Oleh: artja | Juli 21, 2010

Surat Buat Isteriku (5)

Dongeng Sebelum Tidurmu (2)

Masih diterjemahkannya sepi itu, sebagai beban rindu yang memberat di pundak. Pundak yang begitu ringkih dan butuh sandaran kuat.

(kau bilang: memangnya sepi pake bahasa apa, kok pake diterjemahkan segala?
aku jawab: pake bahasa sapi… Mau dengerin, nggak ini?
kau bilang lagi: mau, dong… tapi itu rindunya berapa kilo? kok terasa berat banget bebannya..
aku jawab: Grhhhh…!!!
kau bilang:…
eh, nggak ding. seperti sebelumnya, kau nggak bilang apa-apa lagi, tapi cuma cengengesan…jadi aku lanjutin lagi dongengnya)

Masih diterjemahkannya sepi itu sebagai teman yang selalu mengisi percakapan anatara dirinya dan alam semesta, antara dirinya dan kehidupan ini sendiri. Kehidupan yang begitu indah namun selalu tak terduga. Percakapan-percakapan panjang yang hanya melahirkan rasa rindu yang ngilu, kekosongan yang dalam dan rasa kehilangan yang sama sekali baru dan lebih gelap dari sebelumnya. Kehilangan yang membuat siapa saja akan mudah tersesat dan makin jauh dari tujuan sebenarnya.

Sekarang suasana di pinggir hutan itu benar-benar gelap, namun ia masih bisa melihat jalan setapak dengan bantuan sedikit cahaya dari bulan. Bulan berumur tujuh hari, yang hanya akan beredar separuh malam, sebelum tenggelam kembali. Sementara bayang-bayang pepohonan menimbulkan kesan aneh di tanah. Terlihat asing. Seperti lembaran karpet yang tidak utuh. Seperti menginjakkan kaki di permukaan danau yang riaknya tak pernah diam. Tapi ia tak ragu sedikitpun tentang arah yang ia tempuh. Semilir angin menyisir hutan. Semilir angin melintasi padang ilalang yang jauh. Semua makin ia kenali, seperti mengenali rumah yang telah lama ia tinggali. Sekarang ia yakin tak akan tersesat.

Tapi benarkah tak ada siapa-siapa di sini? Di hutan lembab yang menyimpan pesonanya sendiri. Hamparan lumut bagai permadani indah. Lembut. bagai menghamparkan mimpi baru dalam hidupmu. Rasanya malam tak akan pernah berakhir di hutan ini, karena kabut mulai datang. Begitu saja seperti sehelai selimut ditebarkan perlahan-lahan. Tiba-tiba saja kesunyian bertambah pekat dan akhir malam semakin gelap. Benarkah kau tak ada lagi?

“Dahan Rasamala itu, Kekasih, bercerita tentang panjangnya usia kasih sayang bumi. Mungkin ratusan tahun ia tumbuh hingga sebesar ini, tapi tak sedetikpun kasih sayang diantara mereka, antara Rasamala dan Bumi Pertiwi, terhenti. Saling melengkapi, saling memberi, saling mengasihi..”
Tapi itu suara dari dalam hatinya saja. Masih sepi yang sama, yang merayap perlahan di sela-sela langkah kaki, dan memanjat tubuh hingga kini rindu utuh bersemayam di dada.

Barangkali semua ini hanya ilusi. Seperti ketika kita membakar sampah, dan timbul asap yang akan segera pergi, begitu angin datang mengacaukan arah. Atau seperti riak air di kolam ketika sebutir kerikil jatuh dan menimbulkan riak gelombang. Akan segera sirna dan kembali tenang permukaan. Tapi bukan ilusi jika ternyata semakin keras upayaku melupakanmu, semakin berkeras kau tinggal di hatiku.

Kalau saja.. lho… ney..? tidur lagi yak? Grrrhhhh… udah capek2 cerita, malah ketiduran lagi.. Kebiasaan!

Oleh: artja | Januari 20, 2010

Arti & Makna Bunga

Mau tahu apa arti-arti dari bunga tertentu? saya iseng-iseng cari di gugel untuk mengetahui arti bunga , dan dapat contekan dari sini.

Ada kemungkinan, di tempat lain artinya berbeda, lho. Lagipula, kombinasi bunga-bunga yang digunakan dan cara/bentuk merangkainya juga punya arti tersendiri. Misalkan, kita nggak bisa mengirim rangkaian bunga mawar berbentuk tengkorak atau clurit untuk kekasih kita, walaupun mawar merah berarti cinta. Jadi, nggak cuma bunganya yang bisa mengandung arti.

Tapi kalau arti bunganya sendiri, saya tuliskan di sini:

A

Absinth/Wormwood: Separation and Torment of Love
Acacia: Platonic Love, concealed love
Aconite/Monkshood: Misanthropy and Poisonous Words
Adams’s Needle: A Friend in Need
Adonis: Recollection of Life’s Pleasure
Almond: Virginity and Fruitfulness
Almond Blossom: Hope and Watchfulness
Aloe: Wisdom and Integrity
Allspice: Compassion
Alyssum (sweet): Worth beyond beauty
Amaranth: Fidelity
Amaranth, Globe: Unchangeable
Amaryllis: Pastoral Poetry, Pride
Ambrosia: Your Love is reciprocated
Anemone: Refusal and Abandonment, Forsaken
Apple: Symbol of Perpetual Concord
Apricot Blossom: Timid Love
Abor Vitae: True Friendship
Arbutus: Thee only do I Love
Artemesia: Symbol of Dignity
Asphodel: Languor and Regret
Aster: Daintiness, Symbol of Love
Azalea: Fragile and Ephemeral Passion

B

Baby’s Breath: Happiness
Bay Wreath: Reward of Merit
Begonia: “Beware! I am fanciful!”
Bindweed: Coquette and Busybody
Bittersweet: Truth
Blackthorn/Sloe: Difficulty and Austerity
Blue Bell: Delicacy and Humility
Bouquet of Withered Flowers: Rejected love
Burdock: Importunity and Boredom
Buttercup: Childishness

C

Cactus: Bravery and Endurance
Camellia: Excellence and Steadfastness
Camellia, red: You’re a flame in my heart
Camellia, white: You’re adorable
Camomile: Initiative and Ingenuity
Candytuft: Indifference
Canterbury Bell: Constancy and Warning
Cardinal Flower: Distinction and Splendor
Carnation: Fascination
Carnation, Pink: Emblem of Mother’s Day, I will never forget you
Carnation, Purple: Antipathy and Capriciousness
Carnation, Red: Admiration, my heart aches for you
Carnation, Striped: No, Sorry, I cannot be with you
Carnation, White: Pure Love, Sweet Love, Innocence
Carnation, Yellow: Disdain and Rejection
Cedar Leaf: “I live for thee”
Chestnut: Independence and Injustice
China Aster: Jealousy and After-thought
Chrysanthemum: You are a wonderful friend
Chrysanthemum, Red: I love you
Chrysanthemum, White: Truth
Chrysanthemum, Yellow: Slighted Love
Cinnamon: Love and Beauty
Clematis: Artifice and Ingenuity
Clove: Dignity and Restraint
Clover: Fertility and Domestic Virtue
Clover, Four leafed: Symbol Of Good Luck
Clover, Five leafed: Symbol Of Bad Luck
Cockscomb/Celosia: Silliness or Foppery
Coltsfoot: Maternal Love and Care
Columbine: Cuckoldry and Deserted Love
Convolvulus: Humble Perseverance
Coreopsis: Always cheerful
Cornflower: Delicacy
Crane’s-bill/Wild Geranium: Constancy and Availability
Crocus: Youthful Gladness, Attachment, Cheerfulness
Crown Imperial: Majesty and Power
Cyclamen: Resignation & Goodbye

D

Daffodil: Emblem of Annunciation/Regard, Unrequited love
Dahlia: Good Taste
Daisy: Gentleness, Innocence, Loyal love
Dandelion: Oracle of Time and Love, Faithfulness, Happiness
Day Lily/Hemerocallis: Emblem Of The Mother
Delphinium: Airy
Dogwood: Durability

E

Edelweiss: Daring & Noble Courage
Eglantine: Spring & Poetry
Elderberry Blossom: Humility and Kindness
Everlasting: Constancy

F

Fennel: Strength
Fern: Sincerity, Magic, Fascination, Confidence, Shelter
Fir: Time & Evaluation
Forget-me-not: Faithful Love, Memories
Forsynthia: Anticipation
Fuchsia: Amiability

G

Gardenia: “I love you in secret”
Geranium, Oak-leaf: Friendship
Geranium, Rose: Preference
Gillyflower, Pink: Bonds Of Affection
Gladiolus: Strength Of Character, I am really sincere
Gloxinia: Love at first sight
Goldenrod: Treasure And Good Fortune

H

Heather, Purple: Admiration, Beauty and Solitude
Heather, Pink: “Good Luck”
Heather, White: Protection From Danger
Heliotrope: Devotion, Eternal Love
Hibiscus: Delicate Beauty
Holly: Foresight
Hollyhock: Ambition and Liberality
Honeysuckle: Sweetness Of Disposition
Hyacinth: Games & Sports
Hyacinth, purple: I am sorry, Please forgive me, Sorrow
Hyacinth, white: Loveliness, I will pray for you
Hyacinth, yellow: Jealousy
Hydrangea : Vanity, Thank you for understanding, Frigidity

I

Iris: Faith, Wisdom, Valor, Your Friendship means so much to me
Ivy: Friendship, Wedded love, Fidelity, Friendship, Affection

J

Jasmine, Red: Folly and Glee
Jasmine, White: Amiability and Cheerfulness
Jasmine, Yellow: Timidity and Modesty
Jonquil: Violent Sympathy and Desire, Love me, Affection returned

L

Lady’s Slipper: Capricious Beauty
Larkspur: Open Heart
Laurel: Success and Renown
Lavender: Constancy
Lilac, Mauve: “Do You Still Love Me”
Lilac, Pink: Youth and Acceptance
Lilac, White: “My First Dream Of Love”
Lily, Calla: Majestic Beauty
Lily, Day: Coquetry
Lily, Orange: Hatred and Disdain, Wealth, Pride
Lily, White: Majesty and Purity, Virginity
Lily-Of-The-Valley: Purity and Humility, Sweetness
Lotus: Mystery and Truth
Love-In-The-Mist/Nigell: Delicacy and Perplexity

M

Magnolia: Dignity, Splendid Beauty
Marigold: Sacred Affection, Cruelty, Grief, Jealousy
Marjoram: Comfort and Consolation
Marvel-Of-Peru: Flame of Love
Mistletoe: Affection and Love
Mimosa: Sensitivity
Myrtle: Love, Mirth and Joy

N

Narcissus: Egotism, Formality
Nasturtium: Patriotism

O

Oleander: Beauty and Grace
Orange Blossom: Your Purity Equals Your Loveliness, Innocence, Eternal Love
Orange Mock: Deceit
Orchid: Magnificence, Love, Beauty, Refinement

P

Pansy: Thoughtful Recollection
Passionflower: Faith and Piety
Peach Blossom: Generosity and Bridal Hope
Pear Blossom: Health and Hope
Peony: Healing, Life, Happy Marriage, Gay life
Peppermint: Warmth of Feelings
Periwinkle, Blue: Early Friendship
Periwinkle, White: Pleasures of Memory
Petunia: Anger and Resentment
Phlox: Sweet Dreams
Plum Blossom: Beauty and Longevity
Poinsettia: “Be of Good Cheer”
Poppy: Imagination, Dreaminess, Eternal sleep
Poppy, yellow: Wealth, Success
Primrose: Young Love, I cannot live without you
Primrose, evening: Inconstancy

Q

Queen Anne’s Lace: Fantasy

R

Rose, Bridal: Happy Love
Rose, Carolina: Love Is Dangerous
Rose, Christmas: Peace and Tranquility
Rose, Coral/Orange: Enthusiasm, Desire
Rose, Dark Pink: Thank you
Rose, Light Pink: Admiration
Rose, Musk: Capricious Beauty
Rose, Pale: Friendship
Rose, Peach: Let’s get together, Closing of the deal
Rose, Pink: Love, Grace, Gentility, You’re so Lovely, Perfect Happiness, Please believe me
Rose, Pink & White: I love you still and always will
Rose, Red: Love, Desire, Respect, Courage, Job well done
Rose, Red & Yellow: Congratulations
Rose, White: Charm, Secrecy, Silence, You’re Heavenly, Reverence, Humility, Youthfulness and Innocence
Rose, White on Red: Unity/Flower Emblem of England
Rose, Yellow: Infidelity, Joy, Gladness, Friendship, Jealousy, Welcome Back, Remember me
Rose, Yellow & Orange: Passionate thoughts
Rosemary: Constancy, Fidelity and Loyalty

S

Salvia, Blue: “I Think of You”
Smilax: Lovely
Snapdragon: Presumption, Deception, Gracious lady
Snowdrop: Hope and Consolation
Spearmint: Warmth of Sentiment
Spider Flower: Elope with me
Statice: Lasting Beauty
Stephanotis: Happiness in marriage
Stock: Bonds of affection, You will always be beautiful to me
Sunflower: Homage and Devotion
Sweet Basil: Good Luck
Sweet Pea: Departure, Blissful pleasure, Thanks for a lovely time
Sweet William: Gallantry, Finesse and Perfection

T

Thrift: Sympathy
Thyme: Courage and Activity
Tiger Lily: Wealth and Pride
Tuberose: Dangerous Pleasures
Tulip: Symbol of The Perfect Lover
Tulip, Red: Believe me, Declaration of love
Tulip, Variegated: Beautiful eyes

V

Violet: Modesty and Simplicity
Viscaria: Will you dance with me?

W

Wallflower: Friendship and Adversity
Water Lily: Eloquence and Persuasion
Wisteria: Youth and Poetry

X

Xeranthemum: Eternity and Immortality

Y

Yarrow: Healing

Z

Zinnia: Thoughts of Absent Friends
Zinnia, Pink: Lasting Affection

Oleh: artja | Januari 15, 2010

Surat Buat Isteriku (4)

Dongeng Sebelum Tidurmu

Ini cerita tentang rindu. Ketika angin seolah mati dan cakrawala hanya menampakkan wajah kusam. Kicau burung telah berhenti, dan geliat ombak sudah surut sejak tadi.

(kau bilang: emang kapan anginnya hidup, kok dibilang angin mati?
aku jawab: ‘kan aku bilang seolah, padahal sih enggak. angin itu sering diasosiasikan sebagai pembawa kabar. makanya ada istilah kabar angin. Kalau nggak ada angin, berarti nggak ada kabar.
kau bilang lagi: ombaknya bangun tidur? kok menggeliat-geliat?
aku jawab: ombaknya beranak dalam kubur! ini mau diceritain nggak? kalo protes mulu, ngarang aja cerita ndiri.
kau bilang:
eh, nggak ding. kau nggak bilang apa-apa lagi, tapi cuma cengengesan…jadi aku lanjutin lagi dongengnya)

Di hutan itu tidak ada anggukan mawar dari semak-semak yang mengurung sepi. Apalagi pekik satwa hutan menjelang pergantian hari. Daun-daun jati sedang berguguran. Tidak, bukan mau mati, tapi karena pohon-pohon jati itu sedang membantu daun-daun pulang menjumpai ibunda pertiwi. Ya, daun itu melambai turun, helai demi helai karena bumi memanggilnya pulang. Karena rahim ibunda pertiwi sedang menyiapkan kesuburan, merindukan kesuburan.

Dahan-dahan jati melepas kepergian daun-daun itu tanpa keluhan. Tanpa suara tangisan. Semua terjadi tanpa ada yang menyadari, seolah terjadi begitu saja. Padahal, seperti semua perpisahan: selalu ada ruang kosong yang ditinggalkan dan dahan-dahan jati itu ikhlas memilih dirinya sendiri yang menderita karena ditinggalkan. Karena dahan-dahan itu sadar bahwa semua demi kesuburan bumi tempatnya berdiri. Biarlah mereka pergi menemui ibundanya, karena kelak mereka kembali dalam diriku, begitu mungkin suara dahan-dahan. Sebuah prosesi kuno yang telah berlangsung sepanjang usia alam.

Ia telusuri jalan setapak di pinggir hutan itu. Semestinya jalan itu berada di tep sungai kecil yang mengalir. Tapi ini kemarau, maka sungai itu tinggal sebuah cekungan berisi batu dan debu. Memang ada genangan, tapi tak cukup banyak untuk bisa disebut air yang mengalir. Di jalan itulah ia melangkah perlahan, seolah bimbang pada arah yang dituju. Tapi dia tahu, jalan itu memang akan berakhir di sebuah sungai lain dan ia akan menelusuri jalan setapak di tepi sungai itu nantinya. Entah ke mana, barangkali ke hutan yang lain lagi, atau malah ke lautan.

Hari mulai gelap dan hawa kemarau berubah dengan cepat. Dingin. Kehangatan mulai melambai-lambai seperti selendang di angan-angan ketika udara merangkul pundaknya. Mencengkeram leher hingga ia mulai menggigil. Tapi ia tak peduli udara dingin. Ia tetap melangkah perlahan. Karena ia yakin setiap tikaman udara dingin akan membuat rindunya makin subur.

Ya, dia sedang merindukan kekasihnya dan setiap pemandangan guguran daun jati akan memupuk perasaannya itu, membuatnya teringat pada seseorang yang telah ia titipkan hatinya, seperti pohon jati menitipkan daun-daunnya pada bumi. Maka dia tetap melangkah perlahan, diantara debu dan batu yang terasa dingin saat kaki menyentuh. Dua tahun bukan waktu singkat untuk merajut harapan, tapi itulah yang sekarang ia kenakan: Rajutan kelabu dan penuh debu. Lusuh. Hanya berhiaskan kenangan pada samar wajah seseorang. Wahai penguasa hutan, tidak adakah binar mata dari seseorang yang sedang ia cari? Bintang-bintang hanya menawarkan kesenangan sesaat dan mereka terlalu jauh untuk disapa.
“Kau lihat bintang itu, Kekasih?”
Ah, adakah yang lebih mampu membuat hati bergetar, selain berjalan sendiri di antara belukar dan memanggil seseorang tanpa sadar?

Masih diterjemahkannya sepi itu sebagai beban rindu yang memberat di pundak. Pundak yang begitu ringkih dan butuh sandaran kuat dan kokoh. Masih di…

Lho…kok. Ney?…dah tidur ya? Honey…, Honey…!
Ughhh…. tadi minta diceritain, kok malah tidur? pasti besok minta diulang dari awal lagi deh. Gak mau ah. Pokoknya kalau besok mau tidur, minta ditemani Joan Baez aja ya, biar dia nyanyi DonnaDonnanya sampe jontor dan kamu tertidur…Tapi, “Met bobo’, honey…, mimpiin aku ya!”

Oleh: artja | April 4, 2008

Ketika Istriku Tambah Chubby

Suatu ketika istriku demam. Suhu badannya hingga 39 derajat celsius. Aku minta agar dia minum obat penurun panas. Tapi hingga keesokan harinya suhu badannya masih saja tinggi. Kuputuskan untuk membawanya ke dokter umum klinik dekat rumah.

Tapi ternyata tak ada dokter umum di klinik itu yang jaga di hari libur. Padahal, promosinya mengatakan ada dokter jaga 24 jam. Terpaksa pindah ke klinik lain yang agak jauh.

Sesampainya di klinik, suasana sepi. Sempat ragu juga, jangan-jangan seperti di klinik sebelumnya: tak ada dokter jaga di hari libur. Untunglah, ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Setelah tanya-tanya dan memeriksa sebentar, dokter mendiagnosis bahwa istri saya terkena radang tenggorokan.

“Apa perlu cek darah, Dok?” tanya saya. Saya curiga, jangan-jangan istri saya terkena DBD atau Thypus.

“Saya beri pengantar untuk periksa darah. Tapi hari ini Lab tutup. Besok saja. Lagi pula, kalau panasnya baru dua hari, tidak bisa dianalisis darahnya, apakah terkena DB atau Thypus. Untuk memeriksa DB, setidaknya sudah demam selama tiga hari, baru bisa kelihatan. Untuk mengetahui Thypus atau tidak, malah hanya bisa diketahui dari pemeriksaan darah setelah panas selama lima hari.”
Kucatat baik-baik dalam ingatan penjelasan dokter itu.

Setelah itu dokter menuliskan resep sambil bertanya kalau-kalau istriku punya alergi terhadap obat. Istriku menjawab bahwa selama ini tidak pernah alergi terhadap obat tertentu. Ada juga antibiotik yang diberikan dengan catatan “Harus habis.” Dari jenis Amoxcilin.

Besoknya, suhu badan istri saya mulai turun. Dua hari setelahnya, suhu sudah normal. Saya minta agar ia menghentikan pemakaian obat. Tapi karena dokter memint aagar antibiotik harus dihabiskan, maka Amoxcilin terebut masih dikonsumsi istriku. Cek darah tidak jadi dilakukan.

Besoknya, tiga hari setelah minum obat, istriku menelpon saat aku ada di kantor. Katanya ada bintik-bintik merah di tubuhnya. Padahal suhu tubuh sudah normal. Ia memberitahu akan pergi ke Lab untuk cek darah. Rupanya ia khawatir terkena DBD. Saat itu sudah sore, dan Lab buka sampai jam sembilan malam.

Ternyata hasil cek laboratorium baru keluar menjelang lab tutup. Aku minta agar istriku ke dokter besok saja, untuk menganalisis hasil pemeriksaan laboratorium. Tapi bintik merah makin merata di leher, tangan dan kaki. Wajah istriku juga menjadi semakin “chubby.” Wah, jangan-jangan alergi obat. Maka sisa obat yang “harus habis” tadi aku habiskan saja dengan cara membuangnya ke tempat sampah.

Ternyata benar, besoknya dokter mengatakan istriku alergi obat. Karena suhu badannya naik lagi, dokter memberi resep baru. Kali ini tidak ada Amoxcilin, melainkan jenis antibiotik yang lain. Juga diberikan anti alergi.

Alhamdulillah, ternyata besoknya dampak alergi obat berangsur hilang. Meski cuma diberi obat tiga butir (pelit amat, dok?) namun alerginya dampak alerginya bisa hilang. Wajahnya juga sudah normal lagi, walau tetap chubby, tapi bukan karena pembengkakan, melainkan karena istri saya memang punya pipi yang menggemaskan.

Oleh: artja | Maret 26, 2008

Pindah Rumah

Akhirnya aku jadi pindah juga dari situ; ke sini.

Awalnya, blog ini (sewaktu di blogspot) dibuat untuk merekam catatan-catatan perjalananku dengan isteriku. Maksudnya, biar suatu saat nanti, ketika kami berdua (insya Allah) sudah kakek-nenek, bisa menunjukkan pada anak-anak dan cucu tentang cerita-cerita kami berdua.

Kan seru tuh, ngeliat cucu-cucu yang ABG sedang membaca kisah kehidupan berkeluarga milik kakek dan neneknya.

Nah, setelah pindahan ini, apa konsepnya masih sama saja? Kayaknya siy, gitu. Tapi nggak tau deh… Bisa aja nanti anak-anakku ikutan ngisi, kalau mereka sudah melek teknologi dan informasi. Tapi… kalau gitu namanya harus diganti, ya?

ya udah, kalau gitu, konsepnya tetep sama saja dengan seperti semula.

Oleh: artja | November 6, 2007

Selamat Ulang Tahun

: Lilis Sofiani

bisik apa yang kau nantikan
sebelum kabar berduyun datang dari televisi dan radio?
tentang kelud yang malu-malu kucing,
atau perusak hutan yang divonis bebas,
atau kabel dan rel kereta yang dicuri lagi,
atau lagu usang yang mengancam negri jiran,
atau tentang ancaman banjir di awal musim?

bisik apa yang kau nantikan,
ketika adzan pertama telah berlalu
dan aku kembali terlelap di dekapmu?
setiap embun yang singgah di sudut matamu
membiaskan kasih yang tak henti membasuh
luka di dadaku yang tak juga sembuh.

bisik apa yang kau nantikan
dari mulut kotor ini
yang sehari-hari kau dengar tinggi suaranya
yang ketika malam tadi aku terjaga
dan diam-diam meninggalkan jejak kecupan di keningmu?
kau tersenyum tanpa sadar
mata damai terpejam.
mungkin kau sedang mengembara ke negri impian
atau sedang berbincang dengan nurani
yang sugguh tak mampu kulukis bening jernihnya.

maka sebelum datang kabar,
sebelum lenyap mimpi,
sebelum terbit fajar,
sebelum luruh embun pagi,
kutuliskan lagi keindahanmu di senyap dini hari
: selamat ulang tahun
semoga segalanya
tetap indah selamanya.

6 November 2007

Oleh: artja | November 5, 2007

Just Another Sunday

Setidaknya satu kali dalam sebulan, aku dan istriku menjadwalkan untuk makan siang di luar. Menu bukan hal penting. Kadang cuma makan ketoprak atau makan soto mie bogor. Yang penting: bisa berduaan selama makan siang. Soalnya, di hari-hari lain, saya ‘kan makan siang di kantor. Jadi istri saya agak-agak maksa untuk menyediakan waktu khusus buat makan siang di luar, setidaknya satu kali dalam sebulan. Begitu juga hari Minggu kemarin.

Setelah sempat balik lagi ke rumah karena titik air mulai turun dan kami lupa mengangkat jemuran (pak Satpam sempat ber”kuluk-kuluk” saat melihat kami balik kanan), kami berjalan kaki lagi menuju area Taman Jajan yang lokasinya nggak jauh dari rumah. Ada banyak pilihan menu di sana. Saat itu langit sudah gelap dan angin bertiup memberi kesejukkan. Aroma hujan mulai tercium di udara bercampur aroma aneka masakan dari stand-stand di Taman Jajan. Tampaknya hujan akan segera turun.

Betul juga. Ketika kami sedang asyik makan, hujan turun dengan deras. Melihat susunan awan (sok belagu jadi peramal cuaca kayak pakar BMG), sepertinya hujan akan berlangsung lama. Maka daripada kelamaan menunggu, selesai makan kami putuskan untuk pulang di tengah guyuran hujan. Payung yang hanya satu ternyata tak cukup melindungi tubuh kami secara utuh. Apalagi, di tengah perjalanan hujan mendadak semakin deras. Biarpun sudah memeluk bahu istri, tapi tetap saja tubuh kami terkena terpaan air.

Tiba di rumah, separuh tubuh kami basah. Waduh… Harus segera ganti pakaian dong, biar nggak masuk angin. Tapi, masa’ siy, keujanan dikit aja udah masuk angin. Istriku juga dulu sering kehujanan saat naik gunung dan keluar masuk hutan. Apa iya tubuh kami seringkih itu? Mengenakan pakaian basah beberapa menit, pasti nggak akan berpengaruh banyak buat kesehatan tubuh kami.

Maka, selagi berganti pakaian, kami putuskan hal ini: hujan-hujanan di area open air yang ada di belakang rumah dan terlindungi tembok tinggi di sekelilingnya. Iya! Bersenang-senang berduaan di bawah siraman air hujan. Huehehe… Kenapa enggak? Di rumah cuma ada kami berdua. Soal masuk angin, bisa dicegah dengan bilasan air hangat nantinya. Asyiik, bisa melampiaskan kerinduan pada hujan-hujanan di masa kecil dulu. (apa kami cuma hujan-hujanan ajah? wah, itu siy, rahasia…. maaf, buat yang belom nikah atau sedang sendirian, jangan iri, ye…. ).

Jadi inget lagunya The Police:

Do I have to tell the story
Of a thousand rainy days since we first met
It’s a big enough umbrella
But it’s always me that ends up getting wet

Oleh: artja | Oktober 10, 2007

Idul Fitri



Oleh: artja | September 26, 2007

Mencari Seribu Bulan

1.

tinggal bercak lama
pada wajah
ketika sujud menjelma
serata tanah

2.

bagaimana lumpur tanah
bisa mencapai bulan
pemilik sempurna wajah?

maka wajah ini
hanya merasakan lumpur
saat air dan sujud diri
bercampur

3.

mencari seribu bulan
barangkali hanya satu
antara tanah dan wajahku

maka lumpur ditelan rindu
dalam sesak rongga dadaku

seperti bertahun-tahun lalu kau sapa aku
di tengah beranda rumahmu
seperti berabad-abad lalu kau usir aku
di tengah limpahan cintamu

mencari seribu bulan:
barangkali bukan seribu

barangkali hanya satu
antara tanah, wajahku, dan cintamu

Ramadhan 1428 H

Oleh: artja | September 4, 2007

Marhaban Ramadhan

Kesibukan menjelang bulan Ramadhan selalu mengasyikkan. Yang paling dekat, tentu saja mempersiapkan tahrib. Membuat acara untuk ikut mengingatkan teman-teman dan tetangga, bahwa Ramadhan ini bisa menjadi momen yang bagus untuk memperbaiki diri. Memang, upaya memperbaiki diri harus selalu dilakukan sepanajang usia, kapan saja. Tapi hal itu akan berbeda dan menjadi lebih mudah jika dilakukan bersama-sama. Untuk tahrib (penyambutan) biasanya siy, diadakan pawai keliling lingkungan tempat tinggal sambil membagi-bagikan jadwal imsakiyah (jadwal waktu shalat).

Demikian juga di rumah kami. Aku dan istriku juga sudah bersiap-siap menyambut bulan suci ini. Segala keperluan yang biasa dilakukan orang-orang menjelang lebaran, sengaja kami lakukan sebelum bulan puasa tiba. Supaya di bulan suci, kami benar-benar bisa berkonsentrasi ibadah. Tak lagi dipusingkan untuk membeli ini-itu, seperti yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Maka sebelum bulan Ramadhan tiba, semua hadiah buat kerabat dan sanak famili sudah kami beli. Kegiatan yang tersisa tinggallah kegiatan amal jama’i dan berkaitan dengan ibadah, seperti membuat hidangan buka puasa bagi orang-orang kurang mampu, acara buka puasa bersama anak yatim, dan kegiatan jamaah lainnya. Nggak ada lagi kegiatan beli selusin baju atau sarung di tanah abang.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.