Oleh: artja | Agustus 29, 2006

Surat buat Isteriku (1)

Sebuah Rumah di Puncak Bukit Kecil

Kalau Kau berjalan melalui jalan yang biasa aku lewati, maka di suatu tempat akan Kau temukan sebuah bukit kecil. Dan di puncak bukit kecil itu, Kau akan melihat sebuah rumah berdiri indah.

Rumah itu sedang-sedang saja ukurannya. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Sehingga sangat pas untuk ditempati sebuah keluarga dengan dua atau tiga orang anak. Dinding dan atapnya berwarna sangat serasi: kuning muda dan hijau kotoran kuda.

Di seputar rumah berpagar setinggi satu meter itu, terdapat halaman yang cukup luas. Halaman depannya ditanami berbagai macam bunga. Halaman sampingnya, di kiri dan di kanan, ditanami berbagai tanaman sayuran. Ada jalan setapak menghubungkan halaman depan dengan halaman belakang yang luas. Beberapa pohon buah-buahan setinggi atap rumah tumbuh rindang di halaman belakang. Sebuah kursi taman tampak sangat serasi di tepi kolam kecil, di bawah pohon rambutan.

Rumah itu sendiri punya tiga kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang duduk keluarga, satu ruang shalat, satu ruang kerja, satu perpustakaan, satu dapur, serta dua kamar mandi. “Ruang makan” berhadapan dengan dapur, menghadap kolam kecil di halaman belakang. Sangat nyaman rasanya, sarapan pagi sambil memperhatikan ikan-ikan mas dan nila berkeliling di dalam kolam. Atau makan malam sambil bermandikan cahaya bulan yang menerangi halaman belakang. Diiringi suara gemericik air dari air terjun mini di sekitar kolam. Sebab, yang kusebut sebagai ruang makan di sini, adalah area yang separuhnya ada di bawah atap rumah, bersambung dengan dapur, dan separuhnya lagi berada di luar, tanpa atap permanen. Dinding kaca tembus pandang memisahkan dua ruangan ini.

Masih banyak lagi cerita menyenangkan tentang rumah itu. Tak akan habisnya bila harus kuceritakan padamu. Hanya, ada satu kelemahannya: rumah itu masih berada di puncak bukit, di suatu tempat yang bisa terlihat dari jalan yang biasa aku lewati.

Memang, bukit itu tak terlalu tinggi, tapi tetap saja tidak mudah bagiku untuk mendaki hingga puncaknya. Hingga kini, aku belum pernah mencapai puncak bukit itu. Padahal, itu adalah salah satu impian terbesarku. Bukannya aku tak pernah mencoba mencapainya, tapi mungkin aku memang masih harus bersabar lagi. Lagipula aku khawatir, bila saat ini aku sudah sampai di puncak bukit itu, maka tak ada lagi puncak-puncak lain yang menghiasi ruang mimpiku. Bukankah setelah puncak, tak ada lagi yang lain selain arah yang menurun?

Biarlah suatu saat saja aku gapai puncak bukit itu lalu memasuki rumah yang ada di sana. Aku yakin suatu saat hal itu akan terwujud. Dan aku berharap Kekasih, aku akan melakukannya bersamamu. Selama saat itu belum tiba, aku juga berharap Kau tak akan bosan menemaniku berjalan (walau kadang pelan) menuju rumah di puncak bukit kecil itu. Biarpun terkadang harus melewati jalan berkerikil tajam, atau menjumpai tikungan yang tiba-tiba menghadang, aku yakin akan mampu mengatasinya, selama Kau bersedia menemaniku berjalan. Dan kita akan tetap berjalan berdampingan, bergandengan tangan, karena Kau dan aku punya satu impian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: