Oleh: artja | September 4, 2006

Skenario Menghadapi Kematian

Minggu malam aku dan istriku mengikuti pengajian bulanan di Mushola al Hidayah, sektor 1.3 BSD. Temanya sama dengan judul tulisan ini. Pemmbawa materinya Ust. Limpad dari LMT Trustco.

Acaranya cukup menarik, meskipun ada gangguan di sana sini dari anak-anak kecil yang terus berlarian sepanjang acara. Apalagi menjelang bulan Ramadhan, acara ini bisa menjadi sarana Muhasabah. Kita diingatkan lagi bahwa kematian bisa datang kapan saja dan tiap orang diwajibkan oleh Allah untuk menyiapkan dirinya masing-masing untuk membawa bekal bagi kehidupan sesudah mati. Bukankah Ramadhan juga bulan muhasabah? (man shama ramadhana imanan wahtisaban…)

Dalam acara itu, Ustadz Limpad mengajak peserta membuat skenario berupa perkiraan rentang umur yang diharapkan masih tersisa. Misalkan, si A diminta menyebutkan umur berapa dia merasa akan siap untuk mati. Lalu dihitung dari usianya sekarang, berapa tahun yang masih tersisa. Kemudian si A bisa melakukan perencanaan untuk mengisi tahun yang tersisa sebelum dia mati dan menghitung apakah sisa waktu yang ada akan mencukupi bagi pengumpulan bekal amal bagi akhirat nanti.

Ini memang bukan upaya mendahului takdir Allah, karena kematian bisa saja datang nanti sore. Ini cuma mengingatkan bahwa kita butuh bekal untuk bisa selamat di akhirat dengan cara membuat rencana-rencana sesuai usia hidup yang kita perkirakan masih tersisa. Tentu saja rencana bisa meleset dan kita mengalami kegagalan. Tapi justru itu masalahnya: dengan membuat rencana saja kita masih bisa gagal apalagi jika tidak punya rencana!!!

Yang menarik meman pada saat Ustadz Limpad bertanya pada seorang peserta, “Umur berapa Anda siap mati?” Pertanyaan ini kemudian bergulir kepada keluarganya, apakah menurut mereka si A ini sudah siap jika mati di usia seperti yang telah disebutkan tadi.

Jujur saja, aku sendiri pasti akan tercenung kalau ditanya, “Umur berapa Anda siap mati?” Karena kita memang tidak tahu, apakah saat itu kita sedang dalam berada di jalan kebaikan hingga meraih khusnul khotimah atau sedang bermaksiat kepada Allah? Pertanyaan ini harusnya mampu membuat orang tersadar untuk menyiapkan bekal amal, bahwa segala yang ada di dunia ini akan kita tinggal.

Allahu’alam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: