Oleh: artja | September 5, 2006

Lumpur

Perusahaan pengeboran penantangnya, dan lumpur panas sang jagoannya. Keduanya beradu kekuatan. Yang satu didukung sumber finansial yang sangat besar, sementara yang lain didukung satu kekuatan: kekuatan alam. Hingga kini skor sudah 3 : 0. Pertandingan belum berakhir.

Sejak hampir empat bulan lalu, di area pengeboran milik mereka, ada semburan lumpur panas yang hingga kini tak juga usai. Rata-rata volume lumpur yang keluar adalah 50.000 meter kubik. Sudah 200-1n hektar area yang tergenang meski telah dibuat tanggul penahan hingga setinggi 10 meter. 3 upaya teknik sudah dilakukan dengan hasil yang sama: lumpur masih muncrat, genangan makin luas dan tinggi. Lalu, apa arti angka-angka dan kenyataan yang lahir di atas?

Ada beberapa gosip (dan mungkin ejekan) tentang sebuah keluarga yang memiliki perusahaan pengeboran itu. Konon, salah seorang anggota keluarga pengusaha itu baru saja menang judi bola milyaran rupiah, sebelum perang tanding itu kemudian bergulir. Lumpur yang muncrat mungkin malaikat utusan tuhan untuk sekedar memberi tahu pada si pemenang taruhan, bahwa uang judi tidak halal. Bahwa segala hal yang diperoleh secara instant akan segera lenyap menguap. Juga ada selentingan kabar bahwa malaikat itu memilih area yang kini seperti lautan lumpur itu karena di sana ada pabrik minuman keras. Lumpur yang menelan pabrik itu adalah malaikat utusan tuhan untuk memberitahu pada pengelola pabrik bahwa minuman keras adalah haram dan semua usaha yang membuat orang lain lupa diri dan mabuk, bisa mendapat ganjaran sangat keras.

Lalu, apa hubungannya dengan kita? Bisa jadi kita juga sedang didatangi malaikat utusan tuhan untuk memberi peringatan tentang kesalahan kita selama ini. Bentuknya mungkin bukan lumpur yang luapannya tak juga bisa ditahan. Mungkin bentuknya adalah musibah-musibah kecil dan kesialan yang kita alami sehari-hari. Lalu apa kita lebih suci daripada masyarakat di sekitar luapan lumpur? Tidak ada jaminan untuk itu. Kalau kita belum juga didatangi lumpur hingga kini, itu karena tuhan masih bersabar terhadap kita. Lagipula, cepat atau lambat jasad kita kelak akan masuk liang lahat, menyatu dengan tanah dan cacing-cacing. Kita hanya sedang diuji, apakah kita menyadari keberadaan lumpur dalam diri kita.

Allahu’alam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: