Oleh: artja | September 8, 2006

Belajar Menjadi Suami (1)

Arswendo pernah menulis “Pelajaran Pertama Calon Ayah”. Judul ini berkesan bagiku. Tema yang dalam kalimat itulah yang terpikir saat aku mencari pengganti judul blog ini. Kenapa blog ini harus diganti judulnya? Kenapa harus memakai judul “Belajar Menjadi Suami? Begini ceritanya.

Semula blog ini berjudul “ar… …di on the blog”. Kemudian karena isinya lebih banyak menceritakan perihal kami berdua, yaitu aku dan isteriku, maka kuganti saja menjadi “arief – lilis on the blog”. Harapanku, isteriku juga mau ikutan menulis di blog ini. Tapi ternyata isteriku masih malu-malu untuk menulis. Mungkin ketiadaan koneksi internet di rumah menjadi salah satu kendala juga. Di samping itu, isteriku ternyata keberatan dengan salah satu tulisanku dan memintaku untuk menghapusnya). Tentu saja aku merasa mendapat pukulan, terpukul, dan kecil hati. Seolah ada yang menunjukku sambil berseru, “Ada yang salah dengan Blog ini !”
Lalu aku coba melakukan koreksi. Kucari, kuteliti, dan kupelajari tiap kata yang kutulis di blog ini. Sampai aku mendapatkan satu kesimpulan: aku belum menjadi suami yang ideal bagi dirinya. Masih perlu melakukan pembelajaran diri. Memang aku sudah menjadi suami, tapi kini aku berpikir bahwa menjadi suami adalah proses belajar. Kalau begitu, judul blog ini lagi-lagi harus diganti. Aku ingin judul yang bisa mewakili kondisi sekaligus semangatku saat ini. Kemudian terlintaslah judul buku tadi (judulnya saja, bukan isinya!). Barangkali karena aku belum punya anak dan masih berstatus calon ayah. Lagipula semangatnya sekarang adalah semangat belajar untuk menjadi suami yang baik bagi isteriku. Maka kupilih saja judul “Belajar Menjadi Suami”.

Mungkin kau anggap terlalu mengada-ada paparanku ini, tapi aku merasa judul itu lumayan enak di dengar di telinga. Tadinya aku ingin membuat “belajar menjadi ayah”. Tapi karena belum punya anak, maka judul itu rasanya belum pas. Memang kalau “belajar menjadi suami” akan ada kesan bahwa aku belum menjadi suami. Namun kemungkinan itu aku kesampingkan saja. Sebab memang suami itu bukan status, melainkan proses untuk menjadi sesuatu, yaitu suami ideal.

Nah, semoga saja setelah mendapat pelajaran karena kritik isteriku, dan dengan niat dan semangat (serta cara pandang) yang baru untuk jadi suami, aku tak perlu mengganti judul blogku lagi suatu saat nanti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: