Oleh: artja | September 18, 2006

Ramadhan, bulan siyam, bulan kasih sayang

Apa yang teringat setiap kali memasuki Ramadhan? Kembang api? Tarawih? Makan sahur berjama’ah? Ngbuburit? atau malam-malam penuh tangis penyesalan?

Setiap kali masuk bulan Ramadhan, aku selalu teringat lagi dengan suasana di masa kecilku di wilayah perkampungan padat penduduk di Tulodong Atas, Senayan, Kebayoran Baru. Selepas buka puasa dan shalat maghrib, dengan sarung melilit di pinggang dan uang sepuluh rupiah (Rp. 25) erat kugenggam, aku segera berlari menjumpai teman-temanku di luar. Biasanya kami main petasan, dan petasan kesukaanku adalah petasan banting. Dengan harga lima perak, aku sudah bisa memiliki dua buah bulatan putih yang jika dibanting akan meledak dengan suara memekakkan telinga. Petasan akan kami banting sambil berlari-lari ke segala arah.

Tentu saja tidak tiap malam aku membeli petasan. Yang paling sering kubeli, seingatku, adalah asinan bengkuang dan ketimun. Aku masih ingat betul rasanya, dengan kuah pedas asam manisnya. Terkadang aku juga membeli bakwan dengan kuah bumbu kacang. Kalau yang ini, aku masih suka sampai sekarang. Sisa uangnya, biasanya aku belikan es limun. Harganya sepuluh perak (Rp. 10) per botol, dan rasa kegemaranku adalah rasa jeruk. Biasanya aktifitas ini harus berhenti saat terdengar adzan Isya’. Kalau tidak, akan kena marah nantinya. Maka arena keriuhan tadi akan berpindah di masjid, hingga orang-orang dewasa akan menegur kami agar tidak terlalu ramai. Seusai tarawih, kami akan lanjutkan dengan permainan lain di sekitar masjid. Biasanya permainan yang dimainkan adalah petak kadal atau dornama (petakumpet berkelompok). Aktifitas penuh peluh ini akan berakhir menjelang pukul sepuluh malam, untuk dilanjutkan lagi setelah subuh.

Di Pondok Gede, aktifitas Ramadhan di masa kecilku tidak berbeda jauh, selain nilai dan harga barang-barang yang berubah naik. Juga setelah memiliki sepeda, karena “touring” keliling pondok Gede menjadi aktifitas lain yang menyenangkan seusai sahur dan subuh. Memang, suasana Ramadhan tak akan mungkin terlupakan oleh semua anak-anak, bahkan yang beragama selain Islam sekalipun!

Aktifitas di bulan Ramadhan ini memang berubah seiring bertambahnya umur. Tapi ada satu yang tak berubah, yaitu kebahagiaan dan kegembiraan menyambut Ramadhan, meski dengan perspektif yang berbeda.

Sekarang adalah tahun kedua aku memasuki Ramadhan bersama seorang pendamping hidup bernama isteri. Aktifitas Ramadhan pun berubah tak lagi seperti di masa kecil yang penuh tawa dan canda. Tapi tetap kebahagiaan dan kegembiraan karena Ramadhan itu tak bisa hilang. Terbayang bagaimana nanti aku menunggu isteriku mempersiapkan diri untuk shalat tarawih atau subuh (perempuan harus menyiapkan sajadah dan mukenanya), lalu berjalan berdua bergandengan tangan menuju musholla. Atau tilawah berdua sambil saling menyimak dan mengoreksi kesalahan sebelum mencari tahu tafsir ayat-ayatnya di Tafsir Fii Zhilalil Quran yang selama ini jarang kami buka. Atau menikmati siaran dakwah di radio atau televisi yang pasti akan semarak di Ramadhan. Atau bersama-sama meningkatkan pengetahuan dengan mengkaji ilmu berbekal buku-buku yang di luar Ramadhan jarang sekali tersentuh. Terbayang keindahan saat-saat menunggu maghrib bersama isteriku, ketika aku membantunya menyiapkan ta’jil (meskipun lebih tepat kalau dibilang aku mengganggunya, karena dialah yang pandai memasak, sedangkan aku hanya menemani saja di dapur). Saling menyadari dan mengingatkan dengan kesabaran bahwa Ramadhan inilah kesempatan menabung amal buat bekal di akhirat nanti.

Begitulah Ramadhan. Bulan hikmah, ampunan, sekaligus pembebasan dari api neraka. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, Ramadhan akan memberikan kesejukan dalam hati, kedamaian yang melingkupi jiwa, dan kesegaran hati ruhani. Bahkan anak-anak kecil pun sudah merasakan hikmah itu, kebahagiaan itu. Lihatlah binar dari mata setiap anak-anak di bulan Ramadhan, begitu indah dan cerah. Apalagi bagi orang dewasa yang sudah memahami hikmah Ramadhan. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan sinyalemen, bahwa Ramadhan adalah kado bagi umat Muhammad yang berumur pendek, agar bisa menyamai tingkat amal ibadah umat-umat terdahulu yang berusia panjang. Mungkin Allah memang mencurahkan segenap kasih sayangnya di bulan Ramadhan. Dan aku sudah punya segudang rencana untuk mengisinya di tahun ini. Rencana yang akan kujalani dengan isteri tercintaku. Tentu saja aku akan mendiskusikannya terlebih dahulu. Isteriku pasti punya rencana juga, dan kami akan membuatnya harmonis dan saling menyesuaikan, hingga tak ada istilah rencana yang saling berseberangan.

Hanya ada satu kekhawatiranku, yaitu soal kambuhnya penyakit maag isteriku. Biasanya (mudah-mudahan tahun ini tidak), di awal puasa, penyakit itu akan datang pada isteriku. Kalau itu yang terjadi, aku pasti akan merasa sedih. Aku tak tahan melihat wajahnya menahan perih lambungnya, hingga kalau boleh, aku ingin menggantikannya menanggung rasa sakit itu. Jadi buat isteriku, “Tahun ini jangan sakit dan membuat suamimu sedih lagi ya?” Ya Allah, angkatlah penyakit itu dari tubuh isteriku. Tapi jika tidak bisa, maka semoga itu menjadi penggugur dosa-dosa dan kekhilafannya. Atau menjadi sarana bagiku untuk semakin mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang padanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: