Oleh: artja | September 27, 2006

Belajar Menjadi Suami (2)

Belajar dari Shalat

Di bulan Ramadhan, kesempatan beribadah biasanya lebih luas. Termasuk melakukan shalat berjamaah berdua dengan isteriku. Kalau biasanya hanya berkesempatan menjadi imam shalat fardlu, maka di Ramadhan kesempatan menjadi imam baginya akan bertambah. Sebut saja seperti shalat tarawih ataupun ketika Qiyamul Lail dengan tahajjud. Ini membuatku sering merenungkan arti menjadi imam bagi isteriku sendiri.

Saat aku berdiri menjadi imam shalat bagi isteriku, dimensi yang bermain bukan hanya dimensi ruhiah saja, atau sekedar menghapus kewajiban terhadap Tuhan. Saat menjadi imam shalat sebenarnya aku sedang memimpin isteriku menghadap Allah. Itu berarti memimpinnya beribadah. Nah, ibadah ini punya dimensi sangat luas. Tidak sekedar ritual rutin saja. Memimpin isteriku shalat sama saja dengan memimpinnya menjalani hidup ini. Aku harus menjadi panutan baginya saat ruku, sujud, mengucap salam, atau gerakan shalat lainnya. Ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Aku harus mampu membimbingnya menjalani hidup, belajar menapak dalam irama yang serasi dan seimbang, sambil terus menyadari bahwa menjalani hidup adalah ibadah yang tak terputuskan. Tentu saja harus ada interaksi dan saling koreksi. Bukankah dalam shalat sekalipun, seorang imam yang salah harus bersedia dikoreksi jamaahnya? Maka dalam menjalani hidup pun aku harus bersedia mendengar masukan dari isteriku, baik berupa kritik maupun saran.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, maka harus dikaji sejak sebelum melakukan shalat, yaitu membersihkan diri dengan wudhu. Seorang imam yang penuh perhatian, akan memperhatikan juga cara diriya berwudhu, agar perannya sebagai imam tidak justru merugikan jamaahnya. Dalam kehidupan, aku harus memerhatikan betul status “kebersihan” rumah tangga. Bukan saja secara fisik, tapi juga secara mental dan ruhani. Misalnya saja, aku harus memerhatikan dari mana asal nafkah yang kuberikan pada isteriku. Tak bisa aku sembarangan memberikan nafkah tanpa mencermati asal usulnya. Kalau gagal, berarti aku juga gagal menjaga wudhu. Secara mental, wudhuku sudah batal, atau membuat isteriku batal wudhunya.

Setelah wudhu, yang harus disiapkan adalah kesucian tempat shalat, yang secara harfiah direpresentasikan dengan sajadah. Ini, dalam kehidupan, sama saja seperti ketika memilih tempat bergaul bagi rumah tangga kita. Seperti apa lingkungan pergaulan dan siapa kawan-kawan pilihan, aku harus mampu membimbingnya. Seperti ketika aku menyiapkan kesucian sajadah tempat kami shalat. Alhamdulillah, saat ini isterku sudah bergabung dalam liqo pekanan. Dan aku tahu, meski bukan orang-orang sempurna, tapi Insya Allah mereka, teman-teman isteriku, adalah orang-orang yang hanif dan amanah.

Hal yang sama juga berlaku untuk setiap gerakan shalat, mulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Semua menjadi cermin bagaimana aku memimpin isteri menjalani hidup ini. Membimbingnya agar bahtera rumah tangga kami mampu terus berlayar hingga tetap dalam kondisi selamat. Harus selalu ada kesesuaian antara apa yang terjadi dalam sahalat berjamaah dengan apa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, itu artinya shalatku hanya berhenti menjadi ritual rutin penggugur kewajiban semata. Itu berarti shalatku tidak dikerjakan dalam keadaan sadar. Padahal Allah melarang kita untuk shalat dalam keadaan tidak sadar atau mabuk.

Maka percuma aku shalat berjamaah bersama isteriku dengan khusuk kalau gagal memberi kasih sayang penuh kepadanya, sebagaimana ketika mengucapkan salam ke kanan, tempat ia duduk ketika shalat berjamaah denganku. Percuma saja shalat khusuk kalau ternyata masih tak mampu membimbing isteri dalam kehidupan sehari-hari. Percuma aku shalat dengan memulai wudhu kalau tak mampu memberi nafkah yang halal dan thayib bagi isteriku, atau gagal mendorongnya untuk mengikuti kumpulan pergaulan yang baik dengan tujuan yang baik pula, meskipun telah memilih tempat yang bersih untuk shalat. Hubungan shalat khusuk ini (pastilah) timbal balik. Artinya, aku tak akan mampu bersikap baik seperti hal-hal yang kusebutkan di atas, kalau shalatku sendiri tidak khusuk. Bukankah Allah menjanjikan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar? Maka pastilah ada korelasi tegas antara kekhusukan saat shalat dengan keberhasilan menjalani kehidupan.

Menjadi imam shalat jamaah, terutama ketika berdua dengan isteriku, haruslah menjadi sarana yang terus mengingatkan diriku untuk mengacu pada akhlak yang baik saat menjadi seorang suami. Seperti telah diketahui, shalat adalah penghubung antara makhluk dengan Khalik. Maka shalat menjadi semacam akhlak, menjadi tata cara bersikap, bagi seorang makhluk kepada Khaliknya. Kalau aku menjadikan shalat ini menjadi cermin berperilaku sehari-hari, maka shalat adalah akhlak acuan saat aku mengimami isteriku ketika menjalani kehidupan ini. Konsekuensinya, sikapku terhadap isteriku dalam menjalani kehidupan ini, adalah bagian dari sikapku terhadap sang Pencipta. Penilaian akhlakku terhadap Allah juga ditentukan dengan akhlakku terhadap isteriku!

Menjadi imam memang tidak mudah, baik dalam shalat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tapi aku telah memilih peran itu, ketika mengucap ijab untuk menikah dengannya. Berjanji akan menjadi imam baginya. Dan aku bisa belajar menjalani peran itu, setiap kali aku menjadi imam shalat baginya.

Allahu’alam Bishawab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: