Oleh: artja | April 4, 2008

Ketika Istriku Tambah Chubby

Suatu ketika istriku demam. Suhu badannya hingga 39 derajat celsius. Aku minta agar dia minum obat penurun panas. Tapi hingga keesokan harinya suhu badannya masih saja tinggi. Kuputuskan untuk membawanya ke dokter umum klinik dekat rumah.

Tapi ternyata tak ada dokter umum di klinik itu yang jaga di hari libur. Padahal, promosinya mengatakan ada dokter jaga 24 jam. Terpaksa pindah ke klinik lain yang agak jauh.

Sesampainya di klinik, suasana sepi. Sempat ragu juga, jangan-jangan seperti di klinik sebelumnya: tak ada dokter jaga di hari libur. Untunglah, ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Setelah tanya-tanya dan memeriksa sebentar, dokter mendiagnosis bahwa istri saya terkena radang tenggorokan.

“Apa perlu cek darah, Dok?” tanya saya. Saya curiga, jangan-jangan istri saya terkena DBD atau Thypus.

“Saya beri pengantar untuk periksa darah. Tapi hari ini Lab tutup. Besok saja. Lagi pula, kalau panasnya baru dua hari, tidak bisa dianalisis darahnya, apakah terkena DB atau Thypus. Untuk memeriksa DB, setidaknya sudah demam selama tiga hari, baru bisa kelihatan. Untuk mengetahui Thypus atau tidak, malah hanya bisa diketahui dari pemeriksaan darah setelah panas selama lima hari.”
Kucatat baik-baik dalam ingatan penjelasan dokter itu.

Setelah itu dokter menuliskan resep sambil bertanya kalau-kalau istriku punya alergi terhadap obat. Istriku menjawab bahwa selama ini tidak pernah alergi terhadap obat tertentu. Ada juga antibiotik yang diberikan dengan catatan “Harus habis.” Dari jenis Amoxcilin.

Besoknya, suhu badan istri saya mulai turun. Dua hari setelahnya, suhu sudah normal. Saya minta agar ia menghentikan pemakaian obat. Tapi karena dokter memint aagar antibiotik harus dihabiskan, maka Amoxcilin terebut masih dikonsumsi istriku. Cek darah tidak jadi dilakukan.

Besoknya, tiga hari setelah minum obat, istriku menelpon saat aku ada di kantor. Katanya ada bintik-bintik merah di tubuhnya. Padahal suhu tubuh sudah normal. Ia memberitahu akan pergi ke Lab untuk cek darah. Rupanya ia khawatir terkena DBD. Saat itu sudah sore, dan Lab buka sampai jam sembilan malam.

Ternyata hasil cek laboratorium baru keluar menjelang lab tutup. Aku minta agar istriku ke dokter besok saja, untuk menganalisis hasil pemeriksaan laboratorium. Tapi bintik merah makin merata di leher, tangan dan kaki. Wajah istriku juga menjadi semakin “chubby.” Wah, jangan-jangan alergi obat. Maka sisa obat yang “harus habis” tadi aku habiskan saja dengan cara membuangnya ke tempat sampah.

Ternyata benar, besoknya dokter mengatakan istriku alergi obat. Karena suhu badannya naik lagi, dokter memberi resep baru. Kali ini tidak ada Amoxcilin, melainkan jenis antibiotik yang lain. Juga diberikan anti alergi.

Alhamdulillah, ternyata besoknya dampak alergi obat berangsur hilang. Meski cuma diberi obat tiga butir (pelit amat, dok?) namun alerginya dampak alerginya bisa hilang. Wajahnya juga sudah normal lagi, walau tetap chubby, tapi bukan karena pembengkakan, melainkan karena istri saya memang punya pipi yang menggemaskan.


Responses

  1. Assalaamu’alaikum,

    Rif … Selamat menunaikan Ibadah Ramadhan …
    Kemana aja ? Gok ‘suami’ ini gak posting lagi ?

    Sibuk ?

    Wass.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: