Oleh: artja | Januari 15, 2010

Surat Buat Isteriku (4)

Dongeng Sebelum Tidurmu

Ini cerita tentang rindu. Ketika angin seolah mati dan cakrawala hanya menampakkan wajah kusam. Kicau burung telah berhenti, dan geliat ombak sudah surut sejak tadi.

(kau bilang: emang kapan anginnya hidup, kok dibilang angin mati?
aku jawab: ‘kan aku bilang seolah, padahal sih enggak. angin itu sering diasosiasikan sebagai pembawa kabar. makanya ada istilah kabar angin. Kalau nggak ada angin, berarti nggak ada kabar.
kau bilang lagi: ombaknya bangun tidur? kok menggeliat-geliat?
aku jawab: ombaknya beranak dalam kubur! ini mau diceritain nggak? kalo protes mulu, ngarang aja cerita ndiri.
kau bilang:
eh, nggak ding. kau nggak bilang apa-apa lagi, tapi cuma cengengesan…jadi aku lanjutin lagi dongengnya)

Di hutan itu tidak ada anggukan mawar dari semak-semak yang mengurung sepi. Apalagi pekik satwa hutan menjelang pergantian hari. Daun-daun jati sedang berguguran. Tidak, bukan mau mati, tapi karena pohon-pohon jati itu sedang membantu daun-daun pulang menjumpai ibunda pertiwi. Ya, daun itu melambai turun, helai demi helai karena bumi memanggilnya pulang. Karena rahim ibunda pertiwi sedang menyiapkan kesuburan, merindukan kesuburan.

Dahan-dahan jati melepas kepergian daun-daun itu tanpa keluhan. Tanpa suara tangisan. Semua terjadi tanpa ada yang menyadari, seolah terjadi begitu saja. Padahal, seperti semua perpisahan: selalu ada ruang kosong yang ditinggalkan dan dahan-dahan jati itu ikhlas memilih dirinya sendiri yang menderita karena ditinggalkan. Karena dahan-dahan itu sadar bahwa semua demi kesuburan bumi tempatnya berdiri. Biarlah mereka pergi menemui ibundanya, karena kelak mereka kembali dalam diriku, begitu mungkin suara dahan-dahan. Sebuah prosesi kuno yang telah berlangsung sepanjang usia alam.

Ia telusuri jalan setapak di pinggir hutan itu. Semestinya jalan itu berada di tep sungai kecil yang mengalir. Tapi ini kemarau, maka sungai itu tinggal sebuah cekungan berisi batu dan debu. Memang ada genangan, tapi tak cukup banyak untuk bisa disebut air yang mengalir. Di jalan itulah ia melangkah perlahan, seolah bimbang pada arah yang dituju. Tapi dia tahu, jalan itu memang akan berakhir di sebuah sungai lain dan ia akan menelusuri jalan setapak di tepi sungai itu nantinya. Entah ke mana, barangkali ke hutan yang lain lagi, atau malah ke lautan.

Hari mulai gelap dan hawa kemarau berubah dengan cepat. Dingin. Kehangatan mulai melambai-lambai seperti selendang di angan-angan ketika udara merangkul pundaknya. Mencengkeram leher hingga ia mulai menggigil. Tapi ia tak peduli udara dingin. Ia tetap melangkah perlahan. Karena ia yakin setiap tikaman udara dingin akan membuat rindunya makin subur.

Ya, dia sedang merindukan kekasihnya dan setiap pemandangan guguran daun jati akan memupuk perasaannya itu, membuatnya teringat pada seseorang yang telah ia titipkan hatinya, seperti pohon jati menitipkan daun-daunnya pada bumi. Maka dia tetap melangkah perlahan, diantara debu dan batu yang terasa dingin saat kaki menyentuh. Dua tahun bukan waktu singkat untuk merajut harapan, tapi itulah yang sekarang ia kenakan: Rajutan kelabu dan penuh debu. Lusuh. Hanya berhiaskan kenangan pada samar wajah seseorang. Wahai penguasa hutan, tidak adakah binar mata dari seseorang yang sedang ia cari? Bintang-bintang hanya menawarkan kesenangan sesaat dan mereka terlalu jauh untuk disapa.
“Kau lihat bintang itu, Kekasih?”
Ah, adakah yang lebih mampu membuat hati bergetar, selain berjalan sendiri di antara belukar dan memanggil seseorang tanpa sadar?

Masih diterjemahkannya sepi itu sebagai beban rindu yang memberat di pundak. Pundak yang begitu ringkih dan butuh sandaran kuat dan kokoh. Masih di…

Lho…kok. Ney?…dah tidur ya? Honey…, Honey…!
Ughhh…. tadi minta diceritain, kok malah tidur? pasti besok minta diulang dari awal lagi deh. Gak mau ah. Pokoknya kalau besok mau tidur, minta ditemani Joan Baez aja ya, biar dia nyanyi DonnaDonnanya sampe jontor dan kamu tertidur…Tapi, “Met bobo’, honey…, mimpiin aku ya!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: