Oleh: artja | Juli 21, 2010

Surat Buat Isteriku (5)

Dongeng Sebelum Tidurmu (2)

Masih diterjemahkannya sepi itu, sebagai beban rindu yang memberat di pundak. Pundak yang begitu ringkih dan butuh sandaran kuat.

(kau bilang: memangnya sepi pake bahasa apa, kok pake diterjemahkan segala?
aku jawab: pake bahasa sapi… Mau dengerin, nggak ini?
kau bilang lagi: mau, dong… tapi itu rindunya berapa kilo? kok terasa berat banget bebannya..
aku jawab: Grhhhh…!!!
kau bilang:…
eh, nggak ding. seperti sebelumnya, kau nggak bilang apa-apa lagi, tapi cuma cengengesan…jadi aku lanjutin lagi dongengnya)

Masih diterjemahkannya sepi itu sebagai teman yang selalu mengisi percakapan anatara dirinya dan alam semesta, antara dirinya dan kehidupan ini sendiri. Kehidupan yang begitu indah namun selalu tak terduga. Percakapan-percakapan panjang yang hanya melahirkan rasa rindu yang ngilu, kekosongan yang dalam dan rasa kehilangan yang sama sekali baru dan lebih gelap dari sebelumnya. Kehilangan yang membuat siapa saja akan mudah tersesat dan makin jauh dari tujuan sebenarnya.

Sekarang suasana di pinggir hutan itu benar-benar gelap, namun ia masih bisa melihat jalan setapak dengan bantuan sedikit cahaya dari bulan. Bulan berumur tujuh hari, yang hanya akan beredar separuh malam, sebelum tenggelam kembali. Sementara bayang-bayang pepohonan menimbulkan kesan aneh di tanah. Terlihat asing. Seperti lembaran karpet yang tidak utuh. Seperti menginjakkan kaki di permukaan danau yang riaknya tak pernah diam. Tapi ia tak ragu sedikitpun tentang arah yang ia tempuh. Semilir angin menyisir hutan. Semilir angin melintasi padang ilalang yang jauh. Semua makin ia kenali, seperti mengenali rumah yang telah lama ia tinggali. Sekarang ia yakin tak akan tersesat.

Tapi benarkah tak ada siapa-siapa di sini? Di hutan lembab yang menyimpan pesonanya sendiri. Hamparan lumut bagai permadani indah. Lembut. bagai menghamparkan mimpi baru dalam hidupmu. Rasanya malam tak akan pernah berakhir di hutan ini, karena kabut mulai datang. Begitu saja seperti sehelai selimut ditebarkan perlahan-lahan. Tiba-tiba saja kesunyian bertambah pekat dan akhir malam semakin gelap. Benarkah kau tak ada lagi?

“Dahan Rasamala itu, Kekasih, bercerita tentang panjangnya usia kasih sayang bumi. Mungkin ratusan tahun ia tumbuh hingga sebesar ini, tapi tak sedetikpun kasih sayang diantara mereka, antara Rasamala dan Bumi Pertiwi, terhenti. Saling melengkapi, saling memberi, saling mengasihi..”
Tapi itu suara dari dalam hatinya saja. Masih sepi yang sama, yang merayap perlahan di sela-sela langkah kaki, dan memanjat tubuh hingga kini rindu utuh bersemayam di dada.

Barangkali semua ini hanya ilusi. Seperti ketika kita membakar sampah, dan timbul asap yang akan segera pergi, begitu angin datang mengacaukan arah. Atau seperti riak air di kolam ketika sebutir kerikil jatuh dan menimbulkan riak gelombang. Akan segera sirna dan kembali tenang permukaan. Tapi bukan ilusi jika ternyata semakin keras upayaku melupakanmu, semakin berkeras kau tinggal di hatiku.

Kalau saja.. lho… ney..? tidur lagi yak? Grrrhhhh… udah capek2 cerita, malah ketiduran lagi.. Kebiasaan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: